Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ath Thabrani[1] dari Abu Waqid bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّهَا سَتَكُوْنُ فِتْنَةٌ. فَلَمْ يَسْمَعْهُ كَثِيْرٌ
مِنَ النَّاسِ فَقَالَ مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ: أَلاَ تَسْمَعُوْنَ مَا
يَقُوْلُ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ ؟ فَقَالُوْا :
مَا قَالَ ؟ قَالَ : إِنَّهَا سَتَكُوْنُ فِتْنَةٌ فَقَالُوْا : فَكَيْفَ
لَنَا يَارَسُوْلَ اللهِ ؟ وَكَيْفَ نَصْنَعُ ؟ قَالَ : تَرْجِعُوْنَ إِلىَ
أَمْرِكُمُ اْلأَوَّلِ.
“Sesungguhnya akan terjadi fitnah.” Akan tetapi kebanyakan shahabat
tidak mendengarnya, Mu’adz berkata, “Apakah kalian mendengar apa yang
disabdakan oleh Nabi?” Mereka berkata, “Apa yang disabdakan oleh
beliau?” Ia berkata, “Sesungguhnya akan terjadi fitnah.” Mereka berkata,
“Lalu bagaimana dengan kami wahai Rasulullah, apa yang harus kami
lakukan?” Nabi bersabda, “Kembalilah kepada urusan kamu yang pertama!”
Urusan kamu yang pertama yaitu yang dipegang oleh para shahabat
sebelum mereka berselisih, itulah jalan yang telah diberikan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam
agar kita menitinya. Dan perintah Nabi ini telah dilaksanakan dengan
sebaik-baiknya oleh generasi tabi’in, tabi’uttabi’in dan para ulama
setelahnya, mereka menghormati para shahabat dan mengambil pendapatnya,
di antara ulama yang amat kuat berpegang kepada atsar para shahabat
adalah Imam Asy Syafi’i rahimahullah,
Imam Asy Syafi’i berkata, “Allah telah menyanjung para shahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam
dalam Alquran, At Taurat, dan Injil, dan mereka telah meraih keutamaan
yang tidak diraih oleh generasi lainnya melalui lisan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam,
maka Allah merahmati dan memberikan selamat kepada mereka, karena
mereka telah mencapai kedudukan yang paling tinggi kedudukan para
siddiq, para syuhada, dan shalihin.
Merekalah yang menyampaikan kepada kita sunah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, sementara mereka menyaksikan wahyu yang turun kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, mereka mengetahui apa yang diinginkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam
yang bersifat umum, khusus, wajib, dan irsyad (bimbingan), mereka
mengetahui sunahnya yang kita ketahui dan yang tidak kita ketahui.
Mereka berada di atas kita pada setiap amalan, ijtihad, wara’, akal, dan ilmu yang dibutuhkan padanya ilmu dan istinbath.
Pendapat mereka paling terpuji untuk kita dan lebih baik dari pendapat
kita sendiri. Dan ulama yang kita temui dari ulama yang diridhai bila
tidak menemukan sunah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam
mengambil pendapat para shahabat jika bersepakat atau pendapat sebagian
mereka jika berselisih, demikianlah pendapat kami; tidak keluar dari
pendapat para shahabat dan jika salah seorang dari mereka berpendapat
dan tidak diselisihi oleh shahabat lain, kami pun tetap mengambil
pendapatnya“.[2]
Bagaikan Bintang di Langit
Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam mengumpamakan dirinya dan para shahabatnya seperti bintang di langit, beliau bersabda,
النُّجُومُ أَمَنَةٌ لِلسَّمَاءِ فَإِذَا ذَهَبَتْ النُّجُومُ
أَتَى السَّمَاءَ مَا تُوعَدُ وَأَنَا أَمَنَةٌ لِأَصْحَابِي فَإِذَا
ذَهَبْتُ أَتَى أَصْحَابِي مَا يُوعَدُونَ وَأَصْحَابِي أَمَنَةٌ
لِأُمَّتِي فَإِذَا ذَهَبَتْ أَصْحَابِي أَتَى أُمَّتِي مَا يُوعَدُونَ
“Bintang adalah amanah untuk langit, apabila bintang pergi akan
datang kepada langit apa yang dijanjikan untuknya, dan aku adalah amanah
untuk para shahabatku, apabila aku pergi akan datang kepada shahabatku
apa yang dijanjikan kepada mereka, dan shahabatku adalah amanah untuk
umatku, apabila shahabatku pergi akan datang kepada umatku apa yang
dijanjikan untuknya”. (HR Muslim).[3]
Dan Allah menyebutkan dalam Alquran bahwa bintang mempunyai tiga
fungsi, yang pertama dan kedua adalah sebagai penghias langit dan
pelempar setan, Allah Ta’ala berfirman :
وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَآءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ
وَجَعَلْنَاهَا رُجُومًا لِلشَّيَاطِينِ وَأَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابَ
السَّعِيرِ
“Dan sesungguhnya Kami telah menghiasi langit dunia dengan
bintang-bintang dan menjadikannya sebagai pelempar setan, dan Kami telah
mempersiapkan untuk mereka ‘adzab Neraka Sa’ir”. (QS. Al Mulk : 5)
Dan yang ketiga adalah sebagai penunjuk jalan, Allah berfirman:
وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ النُّجُومَ لِتَهْتَدُوا بِهَا فِي ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ
“Dan Dialah (allah) yang telah menjadikan untuk kamu
bintang-bintang agar kamu menjadikannya sebagai penunjuk jalan dalam
kegelapan daratan dan lautan.” (QS. Al An’am : 97).
Dan para shahabat adalah hiasan untuk umat Islam karena mereka telah
melaksanakan Islam dengan sempurna dan diberikan kemuliaan yang tidak
diberikan kepada orang lain, mereka kita jadikan sebagai pelempar
pemikiran-pemikiran yang menyimpang dan kita jadikan mereka sebagai
penunjuk jalan dalam memahami Alquran dan hadis sehingga pemahaman kita
tidak menyimpang dan manhaj kita tidak tersesat.
Adapun mereka yang tersesat maka disebabkan oleh penyimpangan mereka
dari manhaj para shahabat dan menolak pemahamannya. Kita memohon agar
Allah menunjukki kita ke jalan itu dan memberikan kekuatan agar
senantiasa berpegang teguh dengannya, Amin.
[1] Shahih, diriwayatkan oleh Ath Thabrani dalam Mu’jam al Kabir,
3:249 no 3307 dari Muththalib bin Syu’aib Al Azdi, dari Abdullah bin
Shalih dari Al Laits bin Sa’ad dari ‘Ayyasy bin ‘Abbas Al Qithbani dari
Bukair bin Al Asyaj dari Busr bin Sa’ad dari Abu Waqid. Qultu: sanad
hadis ini lemah, karena Abdullah bin Shalih yaitu katib Laits adalah
perawi yang ada padanya kelemahan sebagaimana yang dinyatakan oleh Adz
Dzahabi dalam Al Kasyif, namun ia tidak bersendirian, ia di
mutaba’ah oleh Yahya bin Abdullah bin Bukair dari Al laits, dikeluarkan
oleh Ath Thahawi dalam Musykil Al Atsar, 3:221 no 1184 dan ini adalah sanad yang sahih. Sehingga hadis ini menjadi shahih.
[2] I’lamul muwaqqi’in 2/150 Tahqiq syaikh Masyhur bin Hasan Salman.