Selasa, 16 Oktober 2012

Kembali kepada Sunah Nabi dan Para Sahabatnya

   Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan munculnya perselisihan di akhir zaman dan memberikan solusinya yaitu dengan berpegang kepada sunahnya dan sunah khulafa Rasyidin yang tertunjuki setelahnya. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam juga telah mengabarkan bahwa umatnya akan berpecah belah menjadi 73 golongan dan yang selamat hanya satu, beliau mengabarkan bahwa kelompok yang selamat itu adalah apa yang yang dipegang oleh beliau dan para shahabatnya.

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ath Thabrani[1] dari Abu Waqid bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّهَا سَتَكُوْنُ فِتْنَةٌ. فَلَمْ يَسْمَعْهُ كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ فَقَالَ مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ: أَلاَ تَسْمَعُوْنَ مَا يَقُوْلُ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ ؟ فَقَالُوْا : مَا قَالَ ؟ قَالَ : إِنَّهَا سَتَكُوْنُ فِتْنَةٌ فَقَالُوْا : فَكَيْفَ لَنَا يَارَسُوْلَ اللهِ ؟ وَكَيْفَ نَصْنَعُ ؟ قَالَ : تَرْجِعُوْنَ إِلىَ أَمْرِكُمُ اْلأَوَّلِ.
“Sesungguhnya akan terjadi fitnah.” Akan tetapi kebanyakan shahabat tidak mendengarnya, Mu’adz berkata, “Apakah kalian mendengar apa yang disabdakan oleh Nabi?” Mereka berkata,  “Apa yang disabdakan oleh beliau?” Ia berkata, “Sesungguhnya akan terjadi fitnah.” Mereka berkata, “Lalu bagaimana dengan kami wahai Rasulullah, apa yang harus kami lakukan?” Nabi bersabda, “Kembalilah kepada urusan kamu yang pertama!”

Urusan kamu yang pertama yaitu yang dipegang oleh para shahabat sebelum mereka berselisih, itulah jalan yang telah diberikan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam agar kita menitinya. Dan perintah Nabi ini telah dilaksanakan dengan sebaik-baiknya oleh generasi tabi’in, tabi’uttabi’in dan para ulama setelahnya, mereka menghormati para shahabat dan mengambil pendapatnya, di antara ulama yang amat kuat berpegang kepada atsar para shahabat adalah Imam Asy Syafi’i rahimahullah,

Imam Asy Syafi’i berkata, “Allah telah menyanjung para shahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam Alquran, At Taurat, dan Injil, dan mereka telah meraih keutamaan yang tidak diraih oleh generasi lainnya melalui lisan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, maka Allah merahmati dan memberikan selamat kepada mereka, karena mereka telah mencapai kedudukan yang paling tinggi kedudukan para siddiq, para syuhada, dan shalihin.
Merekalah yang menyampaikan kepada kita sunah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, sementara mereka menyaksikan wahyu yang turun kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, mereka mengetahui apa yang diinginkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam yang bersifat umum, khusus, wajib, dan irsyad (bimbingan), mereka mengetahui sunahnya yang kita ketahui dan yang tidak kita ketahui.

Mereka berada di atas kita pada setiap amalan, ijtihad, wara’, akal, dan ilmu yang dibutuhkan padanya ilmu dan istinbath. Pendapat mereka paling terpuji untuk kita dan lebih baik dari pendapat kita sendiri. Dan ulama yang kita temui dari ulama yang diridhai bila tidak menemukan sunah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengambil pendapat para shahabat jika bersepakat atau pendapat sebagian mereka jika berselisih, demikianlah pendapat kami; tidak keluar dari pendapat para shahabat dan jika salah seorang dari mereka berpendapat dan tidak diselisihi oleh shahabat lain, kami pun tetap mengambil pendapatnya“.[2]

Bagaikan Bintang di Langit

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam mengumpamakan dirinya dan para shahabatnya seperti bintang di langit, beliau bersabda,
النُّجُومُ أَمَنَةٌ لِلسَّمَاءِ فَإِذَا ذَهَبَتْ النُّجُومُ أَتَى السَّمَاءَ مَا تُوعَدُ وَأَنَا أَمَنَةٌ لِأَصْحَابِي فَإِذَا ذَهَبْتُ أَتَى أَصْحَابِي مَا يُوعَدُونَ وَأَصْحَابِي أَمَنَةٌ لِأُمَّتِي فَإِذَا ذَهَبَتْ أَصْحَابِي أَتَى أُمَّتِي مَا يُوعَدُونَ
“Bintang adalah amanah untuk langit, apabila bintang pergi akan datang kepada langit apa yang dijanjikan untuknya, dan aku adalah amanah untuk para shahabatku, apabila aku pergi akan datang kepada shahabatku apa yang dijanjikan kepada mereka, dan shahabatku adalah amanah untuk umatku, apabila shahabatku pergi akan datang kepada umatku apa yang dijanjikan untuknya”. (HR Muslim).[3]

Dan Allah menyebutkan dalam Alquran bahwa bintang mempunyai tiga fungsi, yang pertama dan kedua adalah sebagai penghias langit dan pelempar setan, Allah Ta’ala berfirman :
وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَآءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ وَجَعَلْنَاهَا رُجُومًا لِلشَّيَاطِينِ وَأَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابَ السَّعِيرِ
Dan sesungguhnya Kami telah menghiasi langit dunia dengan bintang-bintang dan menjadikannya sebagai pelempar setan, dan Kami telah mempersiapkan untuk mereka ‘adzab Neraka Sa’ir”. (QS. Al Mulk : 5)

Dan yang ketiga adalah sebagai penunjuk jalan, Allah berfirman:
وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ النُّجُومَ لِتَهْتَدُوا بِهَا فِي ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ
Dan Dialah (allah) yang telah menjadikan untuk kamu bintang-bintang agar kamu menjadikannya sebagai penunjuk jalan dalam kegelapan daratan dan lautan.” (QS. Al An’am : 97).
Dan para shahabat adalah hiasan untuk umat Islam karena mereka telah melaksanakan Islam dengan sempurna dan diberikan kemuliaan yang tidak diberikan kepada orang lain, mereka kita jadikan sebagai pelempar pemikiran-pemikiran yang menyimpang dan kita jadikan mereka sebagai penunjuk jalan dalam memahami Alquran dan hadis sehingga pemahaman kita tidak menyimpang dan manhaj kita tidak tersesat.

Adapun mereka yang tersesat maka disebabkan oleh penyimpangan mereka dari manhaj para shahabat dan menolak pemahamannya. Kita memohon agar Allah menunjukki kita ke jalan itu dan memberikan kekuatan agar senantiasa berpegang teguh dengannya, Amin.



[1] Shahih, diriwayatkan oleh Ath Thabrani dalam Mu’jam al Kabir, 3:249 no 3307 dari Muththalib bin Syu’aib Al Azdi, dari Abdullah bin Shalih dari Al Laits bin Sa’ad dari ‘Ayyasy bin ‘Abbas Al Qithbani dari Bukair bin Al Asyaj dari Busr bin Sa’ad dari Abu Waqid. Qultu: sanad hadis ini lemah, karena Abdullah bin Shalih yaitu katib Laits adalah perawi yang ada padanya kelemahan sebagaimana yang dinyatakan oleh Adz Dzahabi dalam Al Kasyif, namun ia tidak bersendirian, ia di mutaba’ah oleh Yahya bin Abdullah bin Bukair dari Al laits, dikeluarkan oleh Ath Thahawi dalam Musykil Al Atsar, 3:221 no 1184 dan ini adalah sanad yang sahih. Sehingga hadis ini menjadi shahih.
[2] I’lamul muwaqqi’in 2/150 Tahqiq syaikh Masyhur bin Hasan Salman.
[3] Muslim no 2531.

Semoga bermanfaat...

Kamis, 23 Februari 2012

Tiga Perkara yang dikhawatirkan Nabi

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَتَخَوَّفُهُ عَلَى أُمَّتِيْ آخِرَ الزَّمَانِ ثَلاَثاً : إِيْمَانًا بِالنُّجُوْمِ وَ تَكْذِيْبًا بِالْقَدْرِ وَ حَيْفَ السُّلْطَانِ

“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas umatku di akhir zaman adalah tiga perkara: beriman kepada bintang, mendustakan takdir, dan kezaliman penguasa”. (Lihat silsilah shahihah no 1127).
1. Beriman kepada Bintang
Beriman kepada bintang yang dikhawatirkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah dua perkara:
Pertama: Meyakini bahwa bintang adalah pengatur alam semesta dan bahwa semua yang terjadi di muka bumi ini adalah dengan kehendak bintang. Keyakinan ini adalah keyakinan yang syirik dan menyebabkan pelakunya keluar dari Islam.
Kedua: Meyakini bahwa bintang berpengaruh terhadap kejadian-kejadian di muka bumi, dimana gerakan bintang dijadikan dalil bahwa akan terjadi suatu kejadian, dan ini disebut dengan ilmu ta’tsir yang dilakukan oleh para dukun dan bagian dari ilmu sihir yang disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

مَنْ اقْتَبَسَ عِلْمًا مِنْ النُّجُومِ اقْتَبَسَ شُعْبَةً مِنْ السِّحْرِ

Barangsiapa yang mempelajari sebagian ilmu bintang, maka ia telah mempelajari sebuah bagian dari ilmu sihir.” (HR. Abu Dawud)
Keyakinan ini adalah keyakinan yang haram dengan kesepakatan para ulama, karena tidak ada yang mengetahui ilmu gaib kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala, firman-Nya:

عَالِمَ الْغَيْبِ فَلاَ يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا {26} إِلاَّمَنِ ارْتَضَى مِن رَّسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا {27}

“(Dia adalah Rabb) yang mengetahui yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang gaib itu. Kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.”(QS. Al-Jin: 26-27).
Di antara jenis perbintangan yang diharamkan adalah meramal nasib seseorang dengan bulan kelahiran lalu dihubungkan dengan salah satu gugusan bintang yang berjumlah 12 yaitu aries, taurus, gemini, cancer, leo, virgo, libra, scorpio, sagittarius, copricorn, aquarius dan pisces. Contohnya orang yang lahir antara 21 april sampai 20 mei bintangnya adalah taurus, kemudian para dukun itu memprediksikan ramalan tahun 2010 katanya, “Tahun ini merupakan tahun prihatin dan hendaknya mampu menahan diri agar lebih sabar dan menghindari tindakan spekulasi. Di dalam bisnis dan pekerjaan nampaknya akan tetap terkendali namun di dalam hubungan cinta kasih dan keuangan akan mengalami gangguan… dan seterusnya.
Ini adalah perbuatan para dukun, yang mengaku-aku mengetahui yang gaib. Perbuatan ini termasuk syirik akbar yang mengeluarkan pelakunya dari Islam, karena tidak ada yang mengetahui yang gaib kecuali Allah saja sebagaimana telah kita sebutkan ayat-ayatnya, dan mengaku tahu yang gaib adalah perbuatan syirik dalam rububiyah Allah Ta’ala.

Kedudukan Bintang Dalam Alquran
Di dalam Alquran, Allah Ta’ala menyebutkan tiga fungsi bintang, yaitu:
Pertama: Sebagai penghias langit
Allah Ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ جَعَلْنَا فِي السَّمَآءِ بُرُوجًا وَزَيَّنَّاهَا لِلنَّاظِرِينَ

Dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan gugusan bintang-bintang (di langit) dan Kami telah menghiasi langit itu bagi orang-orang yang memandang (Nya).” (QS.Al-Hijr: 16).
Allah juga berfirman,

إِنَّا زَيَّنَّا السَّمَآءَ الدُّنْيَا بِزِينَةٍ الْكَوَاكِبَ

Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang terdekat dengan hiasan, Yaitu bintang-bintang.” (QS. Ash-Shaffat: 6)

Kedua: Sebagai alat untuk melempar setan
Allah berfirman,

وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَآءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ وَجَعَلْنَاهَا رُجُومًا لِلشَّيَاطِينِ وَأَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابَ السَّعِيرِ

Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang, dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar seatan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala.” (QS. Al Mulk: 5)

Ketiga: Sebagai kompas penunjuk arah

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ النُّجُومَ لِتَهْتَدُوا بِهَا فِي ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ قَدْ فَصَّلْنَا اْلأَيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran (Kami) kepada orang-orang yang mengetahui.” (QS. Al-An’am: 97)
Dan yang ketiga ini disebut oleh para ulama dengan nama ilmu tasyiir yaitu mempelajari tempat-tempat bintang dan pergerakannya untuk mengetahui arah kiblat, mengetahui waktu; waktu-waktu yang tepat untuk bercocok tanam, berhembusnya angin, waktu musim hujan dan sejenisnya. Oleh karena itu, Allah menjadikan bintang-bintang sebagai alamat (tanda) dalam firman-Nya,

وَعَلاَمَاتٍ وَبِالنَّجْمِ هُمْ يَهْتَدُونَ

Dan (dia ciptakan) tanda-tanda dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl: 16)

Syaikh Shalih bin Abdul ‘Aziz Alu Syaikh berkata:

فهي علامة على أمور كثيرة ، كأن يعلم- مثلا- أنه بطلوع النجم الفلاني يدخل وقت الشتاء ، فدخول الوقت ليس بسبب طلوع النجم ، ولكن حين طلع استدللنا بطلوعه على دخول الوقت ، وإلا فهو ليس بسبب لحصول البرد ، وليس بسبب لحصول الحر ، وليس بسبب للمطر ، وليس بسبب لمناسبة غرس النخل أو زرع المزروعات ونحو ذلك ، ولكنه وقت ، فإذا كان على ذلك فلا بأس به قولا أو تعلما ؛ لأنه يجعل النجوم وظهورها وغروبها أزمنة وذلك مأذون به

“Bintang itu adalah tanda untuk banyak perkara, contohnya adalah untuk mengetahui bahwa munculnya bintang tertentu sebagai tanda masuknya waktu isya, maka masuknya waktu bukan sebab munculnya bintang, akan tetapi ketika bintang muncul. Kita berdalil untuk masuknya waktu dan bintang bukan sebab adanya musim dingin, atau musim panas, atau sebab turunnya hujan, bukan pula sebab cocoknya bercocok tanam, akan tetapi ia hanya menunjukkan waktu saja. Jika demikian keadaannya, tidak mengapa mempelajarinya, karena Allah menjadikan munculnya bintang-bintang dan tenggelamnya sebagai tanda waktu, dan itu perkara yang diidzinkan.”
 Bersambung insya Allah
Penulis: Ustadz Abu Yahya Badrusalam

Kamis, 28 Juli 2011

SISTEM KASTA PADA SEMUT


Setiap koloni semut, tanpa kecuali, tunduk pada sistem kasta secara ketat. Sistem kasta ini terdiri atas tiga bagian besar dalam koloni.
Anggota kasta pertama adalah ratu dan semut-semut jantan, yang memungkinkan koloni berkembang biak. Dalam satu koloni bisa terdapat lebih dari satu ratu. Ratu mengemban tugas reproduksi untuk mening-katkan jumlah individu yang membentuk koloni. Tubuhnya lebih besar daripada tubuh semut lain. Sedang tugas semut jantan hanyalah membuahi sang ratu. Malah, hampir semua semut jantan ini mati setelah kawin.
Anggota kasta kedua adalah prajurit. Mereka mengemban tugas seperti membangun koloni, menemukan lingkungan baru untuk hidup, dan berburu.
Kasta ketiga terdiri atas semut pekerja. Semua pekerja ini adalah semut betina yang steril. Mereka merawat semut induk dan bayi-bayinya; membersihkan dan memberi makan. Selain semua ini, pekerjaan lain dalam koloni juga merupakan tanggung jawab kasta pekerja. Mereka membangun koridor dan serambi baru untuk sarang mereka; mereka mencari makanan dan terus-menerus membersihkan sarang.
Di antara semut pekerja dan prajurit juga ada sub-kelompok. Sub-kelompok ini disebut budak, pencuri, pengasuh, pembangun, dan pengum-pul. Setiap kelompok memiliki tugas sendiri-sendiri. Sementara satu kelom-pok berfokus sepenuhnya melawan musuh atau berburu, kelompok lain membangun sarang, dan yang lain lagi memelihara sarang.
Setiap individu dalam koloni semut melakukan bagian pekerjaan-nya sepenuhnya. Tak ada yang mencemaskan posisi atau jenis tugasnya. Ia hanya melakukan apa yang diwajibkan. Yang penting adalah keber-lanjutan koloninya.
Kalau kita pikirkan bagaimana sistem ini berkembang, kita tidak dapat mengingkari fakta adanya penciptaan.
Mari kami jelaskan alasannya: Jika ada tatanan yang sempurna, secara logis kita berkesimpulan bahwa tatanan ini tentu dibentuk oleh otak yang merencanakan. Misalnya, tatanan disiplin dalam militer; jelas bahwa para perwira yang mengendalikan tentara telah menetapkan tatanan ini. Sungguh absurd kalau kita berasumsi semua individu dalam pasukan berkumpul dengan sendirinya dan mengorganisasi diri sendiri, lalu berkelompok menurut pangkat dan mulai bertindak sesuai pangkatnya. Lebih jauh lagi, perwira yang telah menetapkan tatanan ini harus terus melakukan inspeksi agar tatanan ini dapat bertahan tanpa masalah. Kalau tidak, pasukan yang diserahkan kepada prajurit saja akan berubah menjadi kumpulan yang kacau, sedisiplin apa pun pada mulanya.
Semut juga memiliki disiplin yang sangat mirip dengan disiplin militer. Namun, aspek yang penting adalah tidak ada “perwira”, atau administrator yang mengorganisasi, di mana pun juga. Berbagai sistem kasta dalam koloni semut menjalankan tugas mereka secara sempurna, meskipun tanpa “kekuatan pusat” yang terlihat mengawasi mereka.
Lalu, penjelasan satu-satunya adalah bahwa kehendak pusat ini merupakan kehendak yang “tak tampak”. Ilham yang disebut dalam Al Quran dalam pernyataan “Dan Tuhan-mu mewahyukan kepada lebah” (Surat An-Nahl: 68) adalah kekuatan yang tak tampak ini.
Kehendak ini telah menyempur-nakan perencanaan yang begitu dahsyat — yang menakjubkan manusia saat mencoba mengana-lisisnya. Ketakjuban dan kekaguman seperti ini juga telah diungkapkan oleh para peneliti dari waktu ke waktu dalam berbagai bentuk. Kaum evolu-sionis, yang mengklaim bahwa sistem yang sempurna ini telah berkembang akibat kebetulan, tidak mampu menjelaskan perilaku pengorbanan yang merupakan pusat sistem ini. Sebuah artikel mengenai topik ini dalam Jurnal Bilim ve Teknik sekali lagi menunjukkan ketidakmampuan tersebut:
Masalahnya, mengapa makhluk hidup suka tolong-menolong? Menurut Teori Darwin, setiap makhluk hidup berjuang untuk kelangsungan hidup dan perkembangbiakannya sendiri. Karena membantu makhluk lain akan secara relatif mengurangi peluang kelangsungan hidupnya tersebut, perilaku ini mestinya dilenyapkan oleh evolusi pada jangka panjang. Namun, telah terbukti bahwa makhluk hidup rela untuk berkorban.
Cara klasik untuk menjelaskan fakta pengorbanan ini adalah bahwa koloni yang terbentuk dari individu-individu yang mau berkorban demi kepentingan kelompok atau genus akan lebih sukses dalam evolusi daripada koloni yang terbentuk dari individu-individu yang egois. Namun, teori ini tidak menjelaskan bagaimana masyarakat yang mau berkorban ini dapat mempertahankan ciri tersebut. Suatu individu egois yang mungkin muncul dalam masyarakat itu mestinya akan meneruskan ciri egoisnya kepada generasi berikut, karena dia tak akan mengorbankan dirinya. Hal samar lainnya adalah bahwa jika evolusi terjadi pada tingkat masyarakat, sebesar apa semestinya masyarakat itu? Apakah masyarakat itu berupa keluarga, kelompok, genus, atau kelas? Bahkan jika evolusi terjadi bersamaan pada lebih dari satu tingkat, apa yang akan terjadi jika kepentingan antartingkat ini bertentangan?
Seperti yang kita lihat, mustahil menjelaskan rasa pengorbanan pada makhluk hidup dan sistem sosial yang berdasarkan padanya dengan teori evolusi, yakni dengan berasumsi bahwa makhluk hidup telah muncul akibat kebetulan.